SEPENGGAL
CERITA DARI GUNUNG PASIR
07
AGUSTUS 2019
(Kukuruyukk)... suara ayam jantan
saling bersahutan menandakan sebentar lagi malam akan kembali ketempat
peraduanya. Pagi itu sangat cerah, hampir tidak ada sedikitpun awan yang
menghalangi sangsurya untuk memancarkan cahaya kuningnya. Para petani sibuk
mempersiapkan keperluan untuk merawat masa depan mereka sedangkan nelayan,
mereka sudah mengayun perahu sedari subuh untuk mengarungi lautan. Hal ini
tentunya tak pernah kita temukan diperkotaan. sungguh damai, orang-orang itu
sedang sibuk dengan pencarian masa depan yang belum tentu meberikan sebuah
kepastian. Waktu itu saya sedang berada dikampung kolega yang kebetulan orang
tuanya memiliki ladang padi yang sudah siap ntuk dipanen.
Tentunya mereka tidak bisa memanen padi secara keseluruhan apabila
hanya bermodalkan alat manual berupa ani-ani
oleh karena itu mereka memanggil orang banyak untuk membantu proses
tersebut. Kegiatan memanen padi ini sudah mereka lakukan sejak dahulu, uniknya
orang yang tidak memanen akan turut menikmati hasil. Menurut cerita,
walapun tidak ikut membuka lahan namun
mereka akan turut menikmati hasil dari padi yang sudah dipanen asalkan
mereka berpartisipasi dalam menanam
padi. Intinya setiap yang menanam maka akan memperoleh bagian dari sipemilik.
Sistem bagi hasil didasarkan pada jumlah padi yang diperoleh, jika pemanen
mendapati hasil sepuluh ikat maka pemanen tersebut akan memperoleh hasil
sebanyak tiga ikat selebihnya diserahkan kepada pemilik ladang. Hal ini
tentunya menguntungkan kedua belah pihak.
Resiprositas ini sudah berlangsung dari zaman nenek moyang
orang-orang disini. Asas kekeluargaan sangat dijunjung tinggi yang terpenting
adalah orang lain atau anggota kerabatnya dapat ikut menikmati dan padi yang
ditanam dapat terpanen semua. Kegiatan memanen tidak hanya berakhir pada sistem
bagi hasil semata, masyarakat disana melakukan ritual sebagai bentuk perwujudan
rasa syukur kepada Tuhan atas hasil yang melimpah. Orang disini menyebutnya
sebagai wawono ta’u yang artinya
pesta panen. Pada saat malam puncak, orang-orang akan berbondong membawa dulang
yang berisikan olahan makanan dari hasil panen tadi. Serangkain kegiatan acara
seperti tari lense, mansa (silat) dan lulo juga ikut memeriahkan cara adat
tersebut.
Menurut kepercayaan orang-orang disana, bahwa padi yang sudah
dipanen tidak bisa dikonsumsi terlebih dahulu apabila belum melewati tahap haroa (baca-baca), hal ini tentunya
didasarkan pada kepercayaan mereka bahwa apabila ada beberapa bagian dari
mereka tidak mengikuti aturan tersebut maka akan terkena sial. Misalnya
akan diserang hewan buas baik didarat
maupun dilaut, mereka juga lebih mendahulukan sumanga (roh halus) untuk mengkonsumsi hasi panen peristiwa ini
mereka interpertasikan kedalam ritual, menurut mereka ritual ini akan
berpengaruh terhadap keberhasilan panen kedepanya. Hal demikian menunjukkan
bahwa prisnsip kebersamaan orang-orang disana sangatlah kuat, semua bisa
dilihat dari cara mereka mengkonsumsi hasil panen dan mereka lebih mendahulukan
kebutuhan religi ketimbang pribadi mereka sendiri.
Konstalasi budaya ini terus berlangsung setiap sekali dalam
setahun walaupaun telah terdapat instrumen tambahan yang sengaja diadakan oleh
orang-orang disana dengan alasan agar ritual wawono ta’u lebih meriah. Melihat potensi daerah adalah hal yang
sangat wajib dalam sebuah pembangunan. Kebetulan padi yang ditanam oleh
orang-orang disini hanya dapat kita temukan diwilayah mereka. Keunikan itu
mampu mengetuk kognisi pemda untuk menjadikannya sebagai komoditi unggulan.
Menurut informasi, bahwasanya saat ini pemda sedang gencar-gencarnya
mempromosikan padi tersebut dikancah nasioanal dan bahkan sampai keluar negri.
Tentunya untuk menunjang program tersebut pihak pemda mewajibkan para petani
untuk lebih fokus bertani pdai organik. Untuk lebih meyakkinkan masyarakat,
pemda membuka lahan dan juga turut menanam padi endemik tersebut. Alih-alih
ternyata hal itu tidak menunjukkan perubahan yang signifikan khsusunya bagi
para petani, bahkan memicu masalah baru.
Berdasarkan pengakuan salah seorang petani yang kebetulan saat itu
saya bertemu secara tidak sengaja, dia mengatakan bahwa masyarakat enggan
berpartisipasi dengan program yang dicananglkan oleh pemda, menurutnya hal
tersebut sangat tidak kondusif salah satu penyebabya adalah minimyna lahan,
proses panennya lebih lama jika dibandingkan dengan padi konvensional, serta
sebagian masyarakat belum terbiasa untuk memprodusksi padi organik. “sebelumnya
saya ingin mengatakan bahwa padi organik hanya bisa ditemui di Kecamatan Kambowa
dan Bonegunu” tentunya pemahaman untuk mengelolahnya hanya diketahui oleh
pemilk padi tersebut. Daerah ini tidak hanya dihuni oleh orang-orang lokal
semata melainkan juga terdapat orang-orang yang berasal dari Jawa, Bali dan
Ambon, sehingga kelancaran program yang dicanangkan oleh pemda dapat terhambat
akibat kesenjangan budaya yang terjadi dikalangan petani.
Keadaan ini harusnya menjadi perhatian khusus oleh pemerintah
setempat. Seharusnya pemda lebih melihat kondisi ini dengan melakukan
pendekatan kultural, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya bahwa orang
yang tidak menanam padi akan tetap turut menikmati hasil karena didasarkan pada
keikutsertaan mereka dalam menanam padi, kemudian apabila wacana ini
digeneralisasi makan akan terjadi kesenjangan budaya, banyak orang yang tidak
paham dengan tatacara pengolahan namun mereka dipaksa untuk menanam sehingga
program tersebut tidak terealisasi dengan baik. Berdasarkan kondisi dilapangan,
orang tidak akan bisa maju dengan hanya mengandalkan padi organik semata. Bagi
orang-orang disini klimaks dari hasil panen bukan pada keuntungan ekonomis
melainkan kepuasan religi bisa terpenuhi oleh mereka. Tapi sepetinya pemda
tidak meperhatikan masalah ini, isu tentang padi organik sudah telah sampai
kekancah internasional, namun lucunya masyrakatnya enggan untuk menanam padi
padahal pemda sementara berbangga dengan potensi tersebut. Dengan melihat
kondisi kultural mereka makan akan memberikan sebuah pemahaman bahwa suksesnya
sebuah program dapat dipengaruhi oleh kondisi masyarakatnya. Kesiapan
masyarakat untuk menyambut program tersebut sangatlah kecil, terlebih lagi
mereka tidak memprioritaskan keuntungan. Yeah itulah sepenggal cerita tidak
penting yang saya dapatkan pada saat berada dikampung sahabatku. Semoga kita
terus menuliskan hal yang tidak menarik siapa tahu kelak akan menjadi menarik apabila
terus diltulis.
PEMARKIR.

Komentar
Posting Komentar