Langsung ke konten utama

Bocah Malang

 

06 April 2020

Bocah Malang

 

 


   

     Kejadian itu berawal dari rumor bahwa petinggi di Daerah X telah melakukan tindakan asusila kepada seorang bocah di bawah umur. Berita tidak mengenakkan itu pertama kali terdengar melalui via telepon dari kakakku, saat itu saya sedang berada di luar kota. Pertamakali mendengarnya saya tersontak kaget, sambil membatin bahwa peristiwa itu pasti tidak benar adanya. Saya menemui salah seorang rekan kerja dari petinggi itu dengan maksud mengkonfirmasi berita yang sudah beredar di tengah orang-orang x tersebut. Kami menentukan jam pertemuan berserta lokasinya dengan tujuan untuk membahas masalah ini sebelum mencuat ke publik. Pada pertengahan pertemuan saya memperlihatkan beberapa postingan di beranda facebook yang membahas kabar asusila petinggi daerah x itu. Kebetulan saya mengetahui persis latar belakang orang yang memposting kabar tersebut, selain itu saya juga mengetahui siapa orang-orang terdekatnya. Sebelumnya kabar pelik itu sudah diketahui oleh orang-orang X hanya saja mereka segan untuk menyebarluaskannya dan pengedar berita di facebook itu adalah orang yang berada pada tempat berbeda dia bukan masyarakat disana (tempat terjadinya asusila) ia juga tidak tahu menahu dengan kondisi si bocah. Sementara ada salah seorang dari warga x yang bersahabat dekat dengannya sebut saja jers (orang yang pertama kali membuat opini), saya sempat melihat story whatshap mike (sahabat dekat jers sekaligus warga daerah x) membahas masalah itu dengan nada mengejek. Sehingga saya sangat yakin kalau jers mengetahui kabar miring itu dari mike. Tidak ada respon signifikan dari status yang dibuat oleh jers, warganet seolah tidak peduli dengan opininya. Setelah selesai mebahas postingan jers kami bergegas menuju tempat kediaman Mike, anehnya perilakunya berlainan dengan geliatnya di media sosial. Bahkan mike turut menyayangkan kabar miring itu, dia juga memberikan solusi kepada kami berdua. Sepertinya ada hal yang disembunyikan. Sementara itu saya masih tetap menyelidiki orang-orang yang bersemangat mebahas isu vulgar tersebut. Dua hari sesudah mengikuti setiap updaten postingan jers, saya menemukan salah seorang warga daerah x membahas isu yang sama. Setiap hari bahkan setiap menitpun dia sangat gaduh membahas berita itu didinding kronologi facebooknya. Akun-akun facebook palsu juga ikut meyakinkan warganet bahwa berita asusila yang dilakukan oleh petinggi daerah x memang benar terjadi. Akhirnya postingan yang masif itu seketika menjadi ternding topik orang-orang atau lebih tepatnya warga daerah X.  Berbagai macam asumsi tersimpan pada setiap kolom komentar status yang dibuat oleh brog (orang ketiga penyebar berita vulgar) ada yang menyangkal bahwa itu tidak benar dan ada yang menyatakan bahwa peristiwa tersebut benar-benar terjadi. Sebelumnya saya ingin menyampaikan bahwa jers adalah keponakan dari Bupati daerah x dan tidak sedang menetap di wilayah tempat kejadian tindak asusila tersebut , mike adalah warga x yang tidak sejalan dengan petinggi daerah x dan brog adalah kerabat petinggi x yang kebetulan gagal terpilh pada perhelatan pilcaleg 2019 didaerah itu. Banyak identifikasi yang bisa kita tentukan dari setiap latar belakang mereka, opini dari ketiga orang tersebut menjadi dasar mencuatnya masalah asusilah itu keruang publik khusunya media sosial.

    Setiap hari kakak saya selalu memberikan informasi terkini tentang tindakan asusila yang dilakukan oleh petinggi daerah x tersebut. Berita itu telah menjadi konsumsi rutin oerang-orang x pada setiap persimpangan jalan, masalah tersebut menjadi topik pembuka dalam percakapan yang mereka mulai. Semua kalangan ikut mengkonsumsi berita bohong itu. Dia juga menyebutkan nama orang-orang yang turut mencampuri masalah vulgar itu. Oh ya.. saya melewatkan satu hal penting, dimana pemicu masalah vulgar itu berawal dari pengakuan bocah yang katanya dijual oleh bibinya sendiri kepada ptinggi itu. Si bocah bercerita kepada teman dekatnya di sekolah. lalu kemudian teman dekatnya itu menceritakan semuanya kepada kakanya yang kebtulan berstatus sebagai mahasiswa di salah satu universitas yang tidak terlalu tersohor. Si bocah tidak bercerita dengan spesifik tentang apa yang ia alami, ia hanya menjawab setiap pertanyaan teman-temannya ketika menyoroti keadaannya yang setiap hari membawa uang jajan yang begitu banyak di sekolah. Baru kemudian ia dipaksa mengaku oleh kakak temannya itu yang bernama fan.  Hal demikian menjadi titik kejanggalan masalah tersebut. Tidak ada seorangpun yang mengetahui penyebab si bocah membuat pernyataan dan apa motif fan membuat video rekaman tersebut.

    Dengan adanya rekaman video itu pulalah yang menyebabkan orang-orang berani membuat opini khususnya di media sosial. Padahal terdapat jenis video yang lain, bahwa anak tersebut membantah dengan membuat video ke dua. Didalam video itu si bocah mengatakan bahwasanya dia dipaksa oleh fan dan diajak kerja sama untuk memeras petinggi daerah x. Kejadian itu semakin membuat publik bertanya-tanya, berdasarkan apa yang saya temukan di media sosial banyak orang-orang yang memilih yakin terhadap video pertama. Padahal jika dilihat berdasarkan kondisinya, video pertama terkesan diarahkan oleh beberapa orang. Pada video ke dua si bocah membuatnya sendirian tidak ada teman siapapun di sekelilingnya. Sepertinya motif orang ikut menyebarkan video itu bukan semata-mata kasihan pada si bocah, banyak dari mereka yang tidak suka dengan keberadaan petinggi itu. Sehingga cara mereka menilai tidak menunjukkan keseimbangan dalam melihat masalah tersebut, mereka menjatuhkannya dan bahkan mencaci beliau di media sosial.

    Keadaan tersebut juga ikut diramaikan oleh ruang-ruang literasi yang tidak independen, salah satu media yang membuat berita terkait tindakan itu seolah-olah memberikan satu kebenaran mutlak terhadap masalah ini. Pada setiap isi pokok beritanya terkesan menyudutkan peringgi daerah tersebut. Padahal berita asusila itu sangatlah simpang siur, tidak ada pendukung kuat untuk menyatakan berita itu benar atau salah. Sepertinya keberadaan berita online itu bertujuan untuk mengendalikan opini publik, terlebih lagi sebahagian besar masyarakatnya x tidak melek dalam melihat isu-isu di media sosial. Keadaan demikian diperparah lagi  dengan para penulis beritanya adalah orang-orang liar yang memakai nama pena atau memalsukan identitas mereka. Huh .. makin kacau saja , saya hanya khawatir dengan keadaan petinggi itu. Sepertinya ia tidak mengetahui perihal berita tentang dirinya.

    Saya sangat kebingungan ketika menyimak rumor tak sedap ini. Banyak kejadian aneh yang kerap saya temukan dalam setiap pembahasan masalah ini. Masalah vulgar tersebut sudah lebih awal dikonsumsi warga x. Padahal belum ada laporan yang masuk ke instansi kepolosian terkait tindakan yang membuat orang-orangx gaduh. Atas kejanggalan ini, saya bisa mengatakan satu asumsi ; “ bahwa para penggunjinglah yang menjadikan masalah ini menjadi heboh dan sangat multi versi;” . ada beberapa lapisan masyarakat yang mungkin kita juga bisa mengukur kualitas gunjinggannya terkait masalah vulgar yang berlangsung ini. Pada setiap kumpulan gazebo kebanyakan para penggunjingnya adalah masyarakat kelas menengah kebawah, di ruang-ruang ber AC ada orang-orang struktural dan pada kursi tertinggipun ada politisi yang menggunjing dengan amat eksplisit, bahkan ada beberapa orang-orang konservatif yang juga turut menggunjing beliau.

    Gunjungan dari orang-orang penghuni gazebo hanya berkutat disitu saja, hasil gunjingannya hanya beredar dilingkup mereka. Dan jika ada beberapa orang tidak membenarkannya mereka akan takut  sehinnga gunjingan itu tidak berlanjut  terlebih lagi diancam dengan pencemaran nama baik. Gunjingan kedua yakni orang-orang struktural, pada tahap ini hasil gunjingannya di tunjukan dengan mebenarkan berita itu bahkan mereka mencampuri urusan ini dengan menyebarkan berita tentang tindakan vulgar itu. Hal demikian disebabkan oleh kekesalan lantaran dimutasi ke daerah-daerah terpencil, lalu kemudian menyalahkan petinggi daerah x penyebab dipindahkan ketempat yang tidak diinginkan oleh mereka. Gunjingan ketiga dilakukan oleh bupati didaerah x itu sendiri, kejadiannya seolah tak nampak. Namun merekalh yang berkontribusi besar terhadap kejadian ini. Taktik dari mereka adalah dengan memperdayakan orang lain untunk menfiralkan kejadian absurd itu, sehingga keadaannya terkesan normatif. Sebelumnya fan sempat berkomunikasi dengan salah satu makelar di kota tempat ia menempuh pendidikan. Makelar tersebut adalah antek-antek dari para petinggi itu, fan dijanjikan keamanan olehnya. Orang pertama yang dikonfirmasi adalah ayah sibocah tersebut. Berdasarkan informasi si ayah itu sudah tidak menafkahi sibocah sejak ia lahir, bahkan si bocah tidak mengenal ayahnya sendiri. Setelah mendengar pengaduan dari fan, ayah si bocah itu langsung melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian.  Padahal ia tidak mengetahui seluk beluk permasalahannya. Sebnarnya banyak pihak yang mencampuri masalah ini, orang-orang yang saya sebutkan diatas adalah penggerak utama mencuatnya tindakan asusilah itu ke publik. Sejak masalah vulgar itu masuk dlam penanganan kepolisian, stasion TV berlomba-lomba menyiarkannya. Mereka merebut legitimasi kepercayaan publik dengan menggiring opini melalui media. Padahal jika dilihat dari sisi hukum masalah tersebut tidak memenuhi unsur pidana. Buktinya tidak ada saksi mata yang menbenarkan pengakuan sibocah tersebut serta penyebar video tidak diselidiki oleh pihak kepolisian. Semua itu hanya berdasarkan viedo pengakuan si bocah. Saya sangat kesal dengan peristiwa ini, pihak kepolisian sangat subjektif dalam menangani kasus ini. Tidak ada keadilan hukum yang ditunjukan dalam penanganan masalah ini, terlebih lagi melihat perilaku kepolisian yang tidak seimbang. Pihak polsek hanya bertugas mengamankan si korban, peneyelidikan kasusnya ditangani langsung oleh polres setempat. Pada tanggal 26 september saya menyaksikan langsung kejadian pengamanan si bocah oleh pihak kepolisian. Si bocah dijemput paksa oleh mereka, sempat ia menolak untuk dibawah kekantor polisi. Saya mendengar percakapnnya dengan salah satu polisi ; “eh kenapa kamu menolak untuk ikut ? (tanya polisi), “saya tidak mau berurusan dengan ini saya tidak melakukan hal itu” ( jawab bocah itu), “ kamu jangan main-main laporanmu sudah masuk kedalam penyelidikan kami (salah seorang anggota polisi mengancam), “ tangkap saja bapakku dia tidak mendengarkanku dia pelapornya bukan saya ( si bocah melerai pernyataan polisi ) . si bocah enggan untuk ikut, lalu rombongan konservatif itu menyalakan mobil menuju rumah bibi si bocah yang katanya mucikari dari perdagangan anak. Belum beberpa menit meninggalkan si bocah datanglah paman beserta bibinya membawa pakaiannya dan memaksanya untuk ikut ke kantor polisi. Si bocah menangis sepertinya ia tidak menginginkan masalah itu terjadi pada dirinya sambil berjalan ia berkata ; “semua ini gara-gara bapakku “.  Kemudian polisi itu datang kembali untuk memanggil si bocah masuk kedalam mobil, ia juga masih sempat menolak. Namun paman dan bibinya memaksa dan menggirngnya untuk masuk. Disepanjang jalan si bocah masih terus merengek, ia tidak terima dengan tindakan ayahnya.  Atas peristiwa ini saya menyimpulkan beberapa hal, bahwa pelecehan dibawah umur itu sebenarnya dilakukan oleh mereka yang memilik kepentingan menjatuhkan petinggi daerah x itu. Si bocah tidak mengetahui ia hanya korban kepentingan dari orang-orang yang takut dengan petinggi daerah x. Saya juga meragukan inti pokok dari masalah ini yakni perdagangan anak dan pelecehan di bawah umur. Hal demikian tentunya tidak memiliki alasan kuat, masyarakat daerah x tidak pandai memahami kondisi kasusnya. Keadaan itu menunjukkan keberhasilan terhadap penggiringan opini, orang-orang x sudah sangat yakin tentang kebenaran masalah ini terlebih lagi sudah ditangani oleh pihak kepolisian.

    Belum berakhir sampai disitu, pihak kepolisian sangat getol mengumpulkan bukti masalah vulgar tersebut. Peristiwa absurd itu tidak akan sampai kepengadilan jika bukti-bukti yang dikumpulkan tidak cukup untuk dibawah ke pengadilan. Sehingga banyak rekayasa yang secara jelas kita temukan dalam penanganan kasus ini, salah satunya dengan memalsukan BAP saksi dari bocah tersebut. Saksi adalah karyawan yang bekerja ditoko sepatu di daerah x, berdasarkan versi polisi karyawan tersebutlah yang melayani sibocah membeli sepatu. Kebetulan sepatu adalah salah satu bukti bahwa si bocah diberi uang oleh petinggi itu melalui bibinya sendiri. Polisi juga menjebak beberapa orang untuk terlibat dalam masalah ini, salah satu teman si bocah juga ikut menjadi saksi. Dia di imingi akan dikuliahkan oleh mereka bahkan sudah menganggapnya sebagai anak angkat. Polisi benar-benar licik, mereka tidak seimbang dalam mengani kasus ini, asas praduga tak bersalah seakan tidak menjadi pertimbangan dalam setiap langkah penyelidikan yang mereka lakukan. “ oh ya... sebelumnya masalah asusila ini adalah setingan dari petinngi daerah x itu, dia menyogok beberapa orang polisi untuk mebuat petinggi daerah x untuk benar-benar melakukan tindakan asusila itu. Sehingga kita tidak perlu heran jika aparat kepolisian sangat subjektif dalam menangani masalah ini. Perihal ini sangat disayangakan, timbul semcama paradoks dalam penangannya. Secara umum kita semua sudah tahu bahwa instansi receh itu adalah penegak hukum. Kebenaran ada ditangan mereka, lantas bagaimana jadinya jika mereka tidak berlaku adil terhadap masalah ini. Kita bisa menyimpulkan kalau kejahatan itu ditangani oleh kejahatan itu sendiri. Jangan berharap semua akan adil jika tidak ada kesadran dari orang-orang konserfatif itu. Hukum diperkosa dan dikebiri oleh mereka padahal standar kebenarannya sudah tertera pada setiap produk hukum itu sendiri. Petinggi daerah x adalah korban sentimen dari sainganya, beliau adalah salah satu figur yang dicintai oleh masyaraktnya. Oleh sebab itu ia dijatuhkan dengan cara-cara tak masuk akal. Mereka berhasil merusak nama baik petinggi daerah x, namun beliau menanggapinya dengan lapang dada. Ia malah tidak menuntut orang-orang yang menjatukannya.

    Oleh karena itu saya sangat tertarik menuliskan maslah ini, sebab ada banyak pelajaran yang kerap kita temukan dalam proses penangannya. Saya ingin generasi kedepannya melihat bahwa hukum akan menjadi tidak berdaya jika para penegaknya adalah  orang-orang bodoh. Keadilan itu sangat jelas adanya jika ditempuh dengan cara-cara yang manusiawi hanya saja jika kepentingan telah terselip pada setiap sisinya maka jangan harapkan keadilan itu akan terwujud. Polisi itu adalah sekumpulan pencari uang yang didandani dengan cara terhormat, mereka adalah boneka kekuasaan. Mungkin ada beberapa diantara mereka yang tidak semiris itu, tapi suara dominan adalah tolok ukur sebuah penilaian.  Terlepas dari ini, mari kita doakan semoga beliau bisa keluar dari masalahnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Kesadaran Kelas Begitu Penting: Studi Kasus Pabrik di Morowali

Mengapa Kesadaran Kelas Begitu Penting: Studi Kasus Buruh Pabrik di Morowali Morowali, Sulawesi Tengah, kini dikenal sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia. Keberadaan pabrik-pabrik pengolahan nikel dan industri logam menarik ribuan buruh dari berbagai daerah. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas industri ini, muncul persoalan yang lebih dalam: bagaimana para buruh memahami posisi mereka dalam struktur sosial dan ekonomi yang ada. Di sinilah pentingnya kesadaran kelas — yaitu kesadaran tentang posisi sosial, ekonomi, dan kepentingan bersama sebagai kelompok pekerja. Artikel ini membahas mengapa kesadaran kelas sangat penting bagi buruh pabrik di Morowali, serta bagaimana teori-teori sosial klasik dapat membantu menjelaskan hal tersebut. Teori Kesadaran Kelas 1. Pengertian Kesadaran Kelas Kesadaran kelas adalah pemahaman seseorang atau sekelompok orang terhadap posisi mereka dalam struktur masyarakat — terutama dalam hubungan antara pihak yang memiliki alat produk...

Jejak Suram Hukum di Indonesia

  04 Juni 2020 Jejak Suram Hukum di Indonesia             Keadilan dalam setiap penerapan hukum merupakan tujuan utamanya. Dalam sebuah negara yang menganut sistem demokrasi, hukum adalah panglima tertinggi, ia sangat berperan penting terhadap tujuan kemanusian dan keadilan. Namun terkadang penerapan hukum tidak selalu berorientasi kepada tujuan idealisnya, hukum bisa saja menjadi ancaman bagi orang-orang tak bersalah. Jika kita melihat rekam jejak kebijakan hukum di Indonesia tentunya banyak sekali hal yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip penerapa hukum. Ada banyak hal yang menjadi pengaruh sehingga menjadikan hukum terlihat pincang. Beberapa faktor yang sangat fundamental adalah politik, uang dan oligarki. Hal demikian dapat kita temui berdasarkan kasus-kasus sebelumnya dimana adabanyak orang tidak bersalah divonis penjara lantaran tidak sejalan dengan kepentingan politik pragmatis, divonsi penjaran lantaran hakim disogok oleh orang-orang ...