2 Maret 2020
setiap yang lahir pasti akan merayakan hari kelahiran mereka, baik itu negara, kelahiran manusia, kelahiran sebuah bsinis dan tak tanggung-tanggung kelahiran binatangpun turut di rayakan. Beberapa waktu lalu, Kelurahan Bonegunu merayakan hari jadinya tepat ditanggal 29 Februari 2020. Berdasarkan informasi, perayaan itu menyalahi waktu pelaksanaanya. Perayaan hari jadi tersebut sudah lewat dari dua bulan lamanya, namun aki lurah bersikukuh untuk tetap melaksanakannya entah pertimbangan apa, yang jelas kita harus menghargai semangatnya.
Dibentuklah panitia untuk kegiatan hari jadi Kelurahan Bonegunu, warga sekitar cukup berantusias menyambut hari perayaan tersebut. Pak lurah berpesan agar setiap rumahtangga menyediakan dulang untuk dibawa ke balai pertemuan pada malam puncak nanti. Perintah itu wajib dilakukan setiap warga Kelurahan Bonegunu. Pak lurah ingin menunjukan kepada bupati kalau orang-orang kioko benar-benar antusias merayakan seremoni tersebut.
Orang-orang disana tidak mendengar keseluruhan pesan yang disampaikan oleh sang bupati. Mereka jenuh, sebab kondisinya bukan pembahasan tentang hari jadi. Menurut orang-orang yang hadir pada saat itu, pak bupati malah menjelaskan tentang kondisi Buton Utara secara keseluruhan di era kepemimpinannya. Salah satu pembahasan yang paling tidak lazim adalah tentang keadaan jalan di Buton Utara. Sebelumnya saya ingin mengatakan bahwa tidak semua yang hadir ditempat itu sejalan dengan dia (bupat) motifasi mereka hanyalah untuk merayakan hari jadi Kelurahan Bonegunu. Saat itu pula tamu undangan merasa kebingungan sebab upacara perahayaan hari jadi kini telah kehilangan substansinya. Pak lurah tidak memperhatikan hal itu, dia malah menyuruh setiap yang hadir untuk bertepuk tangan disetiap jeda pidato pak bupati.
Setelah pak bupati selesai membuang air liur, ki lurah mengarahkan salah satu tokoh adat untuk membacakan beberapa potongan ayat Al Quran. Peristiwa itu ditandai dengan akan dicicipinya isi dulang yang dibawah para warga, mungkin dengan dulangnnya sekalipun akan dilahap. Sebab kondisi tamu undangan saat itu seperti sedang kesurupan, seperti sedang kerasukan jin. Makanan yang tersedia saat itu ludes dimakan oleh rombongan jin berwujud manusia, jika tidak disantap mereka membawa pulang isi dulangnya.
Sebenarnya tidak menjadi masaalah jika mereka menghabiskan seluruh isi dulang yang di bawah oleh warga ke balai pertemuan. Hal demikian sejalan dengan subtansi nilai hari jadi Keluahan Bonegunu, pelaksanaan hari ulang tahun tersebut merupakan bentuk perwujudan rasa syukur serta penghargaan kepada pendiri Kelurahan Bonegunu. Dulang tersebut tidak hanya dicicipi oleh manusia yang hadir pada saat itu. Berdasarkan keyakinan orang-orang disana, arwah nenek moyang juga ikut menghadiri hari jadi tersebut. Oleh sebab itu upacara perayaannya sangat sakral. Sehingga kita tidak perlu heran melihat tingkah laku mereka, mungkin roh halus pendiri Kelurahan Bonegunu merasuki tubuh tamu undangan yang hadir pada saat itu. Lalu bagaimana dengan proses kegiatannya! Apakah ada kesan sakral atau semacamnya ? , silahkan Anda tanyakan itu kepada pak lurah. Ada kepentingan yang diselipkan didalam perayaan hari jadi tersebut, momen itu dijadikan tempat kempanye sekaligus pembelaan bupati terhadap kebodohannya dihadapan masyrakat Kelurahan Bonegunu.
Dengan bangganya acara hari jadi kelurahan selesai dilaksanakan. Bagi lurah bonegunu acara tersebut berlangsung dengan sukses, namun menurut orang-orang kioko acara hari jadi kelurahan telah kehilangan nilai fundamentalnya. Hal demikian diakibatkan oleh tidak berdayaan pak lurah kepada bupati sehingga acara tersebut tidak terkesan khidmat. Kesan yang ada sama seperti penyambutan bupati beserta antek-anteknya. Tidak hanya itu, ruangan balai pertemuan dioleskan dengan warnah merah pada setiap sudutnya. Bagaimanapun juga bupati merupakan petinggi partai X yang bersimbolkan warna merah. Sehingga tampak jelas bahwa acara perayaan tersebut bukan untuk masyarakat Kelurahan Bonegunu, melainkan untuk membalas budi kebaikan bupati terhadap pengangkatan dirinya menjadi lurah. Sekaligus kampanye berbasis ritual.
Tidak selesai sampai disitu, pak lurah bersumpah akan membenahi Kelurahan Bonegunu sebagai bukti pengabdiannya kepada bupati yang telah mengangkatnya sebagai lurah. Tak tanggung- tanggung, pak lurah bahkan rela menggunakan dana pribadinya. Beberapa hari lalu lurae itu mengarahkan masyarakat setempat untuk bergotong royong memperbaiki jembatan yang sudah hampir ambruk. Lokasi jembatan trsebut terletak di muara kali Kioko, padahal kerusakannya merupakan tanggung jawab pemerintah di atasnya. Setelah rehabilitasi selesai lurah memposting hasilnya ke Media Sosial, tujuannya agar dilihat oleh junjungannya bahwasannya ia sudah benar-benar ingin membantu pemerintah daerah. Kesurupan itu ternyata tidak hanya dirasakan oleh bapak bupati dan rombongannya, pak lurah juga turut bertingkah aneh dihadapan banyak orang. Bahkan kesurupan terlama dirasakan oleh Lurah Bonegunu itu sendiri.
Mungkin ia tidak tahu bahwa sebagian orang kioko sudah mengetahui akal bulusnya. Semua semangat yang ia bangun semata-mata untuk kepentingannya sendiri, bukan untuk orang banyak. Kalau tidak seperti itu ia akan dilengser dari jabatnnya. Sungguh malang.

Komentar
Posting Komentar