DARI MENGGENGGAM PACUL, TEMBILANG, PARANG, KAPAK, PUKAT HINGGA MENJADI MANUSIA YANG SERBA MENJADI PENGGERAK INDUSTRI.
Februari 01 2023, pukul 04.00 WIT.
Menurutku tidak absah rasanya jika kita hanya sekedar mencatat narasi yang kerap bersumber dari cerita-cerita yang kemungkinan besarnya kita tidak bisa menjamin kredibilitasnya. Untuk menjawab segala bentuk pertanyaan itu saya memberanikan diri keluar dan menjamah semua hal dengan keterbatasanku.Hingga sampailah saya pada kesempatan untuk bercerita banyak hal tentang hiruk-pikuk Manusia saat ini.
Kota Ternate adalah Tanah pertama yang menjadi pijakan saya ketika hendak mengulik kisah-kisah manusia yang resah dengan peradabannya. Namun tujuan utama saya bukan disini. Selanjutnya saya kembali mengambil jalur laut untuk menuju ketempat yang menjadi alasan saya untuk menjajal pulau yang penuh dengan kekayaan ini.
Desa Leleo adalah tempat kedua yang manjadi kunjungan berikutnya. Sampai disana kami disambut oleh gerombolan jasa pengangkut penumpang yang sangat gaduh berebut penumpang untuk menuju ke Kabupaten Weda Tengah. Saya tidak langsung menggubris tawaran mereka. Perjalanan saya sudah memakan waktu tigahari lamanya, pastilah sya sangat kehabisan energi. Saya memesan makanan siap saji di warung terdekat, sambil melihat-lihat menu makanan yg berjejer di atas meja. Saya cukup terkesima dengan pilihan menu makanannya, menurutku telur ikan Tuna itu adalah santapan yang sangat mahal harganya. Namun disini hanya dijual dengan kisaran harga Rp 35.000 saja perporsinya. Tanpa berpikir panjang saya duduk dan langsung melahap embrio ikan tuna ini, berhubung saya sangat suka dengan makanan yg bersumber dari laut dalam. Oh ya, disini banyak berjejer penjual penjual makanan siap saji juga dengan pedagang kebutuhan lainnya. Mungkin ini merupakan sentral para pengunjung yang akan bertandang ke Weda makanya aktivitas ekonominya cukup ramai.
Sebagai laki-laki yang agak berkepribadian tenang 😂 saya mengambil sebatang rokok dari dalam saku kanan baju. Sambil mengamati aktivitas pelabuhan Desa Leleo yang cukup ramai dengan pendatang. Tidak ketinggalan pula ditempat ini juga turut hadir para penggalang dana pembangunan masjid. Mereka mengumpulkan uang dengan cara yang unik, para hamba Allah ini menggunakan bakat menyanyi mereka sebagai daya tarik orang-orang untuk melihat atau menyaksikan lalu kemudian memberi sumbangan.
Selang beberapa menit beristirahat kami mencari mobil yang akan menuju Kabupaten Weda, Halmahera Tengah. Pak sopir menanyai tujuan akhir kami, sebab ini akan berpengaruh terhadap harga sewa mobil yang akan kami tumpangi. Sebagai orang baru saya tidak terlalu tertarik untuk mempersoalkan harga atau kos mobilisasi untuk menuju ketempat tujuan, asal kami bisa sampai ke lokasi tujuan dengan selamat itu sudah memberi ketenangan untuk menikmati perjalanan yg cukup melelahkan ini.
Sepanjang jalan menuju Weda saya agak gugup dengan Medannya. Sebagian besar kondisi jalannya berada di atas bukit, sehingga banyak sekali terdapat jurang-jurang terjal yg sangat mengerikan. Untuk meminimalisir ketakutan itu saya memutuskan untuk tidur. Hingga akhirnya saya tidak banyak mengamati proses yang cukup memacu adrenalin ini.
Tepat pukul 16.00 WIT kami sudah tiba dijantung Kabupaten Halmahera Tengah, Weda. Kebetulan salah satu dari anggota memutuskan untuk berhenti disini, sisa kami berdua yang berada didalam mobil.
Singkatnya saya sudah tiba ke titik tujuan, saya langsung menghubungi kolega disini di Desa Lelilef Weibulen. Saya di hantar ke rumah kos tempat mereka tinggal. Karena capek saya kelelahan dan kembali tertidur.
Waktu Dua Puluh Satu hari sudah cukup banyak memberi saya gambaran tentang orang-orang disini. Berdasarkan informasi awal, dahulu warga Lelilef Weibulen banyak menghabiskan bekerja sebagai Petani dan Nelayan. Mereka juga sangat bergantung dengan hutan. Biasanya Hasil dari pekerjaan ini hanya cukup menghidupi kebutuhan sehari-hari saja. Namun perihal ini sangat sepele bagi mereka ukuran-ukuran struktural tidak berlaku jika diterapkan dilingkungan pedesaan. Menurut mereka Tolok ukur bahagia tidak ditentukan dari banyaknya materi yang seperti dipahami oleh orang-orang industri di perkotaan. Pokoknya yg terpenting adalah kekayaan Nilai lah yg menjadi mobilitas usaha atau kinerja mereka. Warga disini tergolong kedalam petani yg masih terbilang tradisional mereka masih menggunakan alat-alat manual untuk menggarap ladang. Keadaan ini cukup kontras dengan aktivitas Nelayan;Meraka sudah menggunakan mesin sebagai penggerak perahu untuk mencari ikan. Kesejahteraan hidup juga hampir sama dengan petani, mereka enggan bertetekbengek dengan standarisasi struktural yang menurut mereka cukup absurd.
Tahun 2018 adalah saat dimana tatanan kehidupan perlahan mulai berubah. Tahun itu dikenal sebagai masuknya Industri di lingkungan Desa Lelilef Weibulen dan Desa Lelilef Sawai. Seperti sebuah sulap, dengan sekejap lingkungan ini berubah menjadi ramai. Para perantau banyak berdatangan dari berbagai macam daerah di Indonesia. Sebahagian besar ada yg datang untuk bekerja sebagai karyawan di perusahaan dan selebihnya hanya sekedar berdagang berbagai macam kebutuhan manusia.
Kondisi ini tentunya memicu orang-orang lokal untuk merubah arah dan cara hidup mereka. Tentu saja ini disebabkan oleh lahan yang diserut oleh perusahaan, namun ini berawal dari kesepakatan dari hasil musyawarah masyarakat disini. Sehingga hal ini juga merupakan penyebab bergesernya cara memenuhi kebutuhan hidup.
Disatu sisi, kehadiran para pedagang yang berdatangan dari luar komunitas juga turut andil dalam memberikan pengaruh terhadap bergesernya sistem mata pencaharian disini. Setiap sisi jalan raya penuh dengan aktivitas perekonomian yang begitu padat. Harga barang disini cukup mahal, tentunya hal ini merupakan pengaruh dari areal kawasan industri. Perubahan ini sangat masif terjadi, mobilitas manusia yang tinggi membuat keadaan Lelilef semakin ramai akan kunjungan para pekerja.
Perihal ini dengan sendirinya telah mengarahkan orang-orang Sawai dan Weibulen merubah mata pencaharian mereka. Sebagai orang lokal, mereka pasti memiliki kompensasi dari perusahaan. Mungkin dari keuntungan tersebut mereka kemudian menggunakannya sebagai modal untuk membangun usaha-usaha terbarukan. Namun bagi nelayan perihal ini malah tidak akan terlalu berpengaruh terhadap pendapatan mereka. Berdasarkan fakta lapangan, kehadiran perusahaan malah semakin banyak menjadikan nelayan meraup keuntungan dari penjualan ikan, sebab harga tawarnya akan semakin tinggi. Hanya saja areal penangkapan ikan mungkin akan semakin jauh.
Komunitas yang benar-benar mengalami perubahan adalah para Petani, hal ini tentunya disebabkan oleh lahan mereka sudah beralih menjadi area pertambangan. Sebagian dari mereka mulai beradaptasi dengan aktivitas ekonomi yang berkebaruan. ekonomi mereka telah bertumpu pada aktivitas penyedia jasa angkutan, usaha kos-kosan, makanan saji dan banyak lagi aktivitas ekonomi yang telah mereka lakoni.
Di awal-awal saya sempat menyebutkan bahwa orang-orang Sawai dan Weibulen tidak mengenal akan adanya standar kehidupan yg sangat struktural. Namun saat ini konsepsi itu telah berubah. Manifestasi dari keberhasilan ekonomi telah dispesifikan kedalam konsep yang begitu sempit, yakni keuntungan. Perihal ini telah membuat konsep kebudayaan orang-orang Lelilef berubah. Cara mereka memandang hidup sudah semakin dekat ke arah yang cukup kapital.
Selain merubah mata pencaharian, orang-orang lokal juga banyak bekerja sebagai karyawan perusahan. Selang lima tahun berlangsung masyarakat disini telah benar-benar menjadi manusia penggerak industri. Aktivitas komunal sudah semakin jarang kita temukan disini.
Manusia memang mahluk yang sangat dinamis. Kadangkala hanya perlu membutuhkan satu pemicu kuat mereka akan langsung berubah. Suasana kehidupan ekonomi sudah sangat maju, perputaran uang begitu tinggi. Orang-orang Sawai dan Waibulan telah menjadi masyarakat penggerak Industri. Mereka tidak lagi menggenggam kapak, parang, tembilang dan alat-alat sederhana lainnya.
Sayapun berfikir, mungkinkah ini merupakan Revolusi industri yang dimaksudkan oleh pemerintah Selama ini? Tapi sudahlah ini bukan masalah bagiku. Saya hanya sedikit tercengang melihat pembangunan disini. Dahulu banyak orang menyebut bahwa Lelilef adalah pelosok yg sangat jauh dari keramaian namun sekarang semua telah berubah, tempat ini telah menjadi Kota Industri yang hadir di Tengah Hutan.




Komentar
Posting Komentar