HUTAN ADALAH HARAPAN KAMI
06 november 2019
06 november 2019
Persoalan hidup telah banyak menuntut orang melakukan upaya untuk terus memenuhinya. Bagi mereka yang bekerja di kantoran atau sebagai pejabat, pegawai negara, dan pengusaha tentu terkesan sangat menyenangkan, namun bagi mereka yang bekerja serabutan pastinya menyimpan konotasi yang teramat pelik. Bekerja serabutan memang tidak membawa keuntungan yang besar, pekerjaan ini tidak mensejahterakan masyarakat. Hal tersebut pernah saya temukan pada sebuah perkampungan yang terlatak tepat diUtara pulau Samlake, dimana hampir semua anggota masyarakatnya tidak memiliki pekerjaan pasti padahal jika dilihat berdasarkan kondisi wilayahnya, daerah ini sangat potensial untuk dikembangkan dihampir semua bidang. Pada hari ini Sampailah saya pada kesempatan untuk menceritakan pengalaman selama berada dikampung itu. Kurang lebih memakan waktu tiga bulanan, disini saya bersama dengan orang-orang yang benar-benar manaruh haparan hidup pada hutan dan hampir sebahagian masyarakatnya bekerja disini. Saat itu saya mengikuti bapak irigre yang kebetulan beliau adalah sebut saja pekerja hutan, saya sudah akrab terlebih dahulu dengan dia sehingga untuk mengikutinya masuk hutan saya tidak merasa canggung sedikitpun. Bapak irigre tidak hanya seorang diri, dia bersama dengan beberapa pekerja lainnya saya mengenal sebagian dari mereka diantaranya ode, bob dan luke. Sementara anggota yang lainnya adalah pencari rotan saya tidak mengenal satupun dari mereka, namun lagaknya sangat akrab dengan pendatang baru. Satu lagi yang terlupa bapak jo, beliau adalah pengendara mobil hartop yang mengangkut hasil olahan kayu setiap harinya.
Pada saat itu Kami memutuskan untuk bermalam selama seminggu ditengah hutan, tentunya perbekalan sudah disediakan sebelum hari keberangakatan. Tepat hari minggu pagi kami berangkat menuju kelokasi tempat bekerja. Rombongan berangkat dengan mengendarai sepeda motor dan sebahagiannya menumpang kemobil, jarak antara perkampungan dan kamp tidak terlalu jauh kami hanya membuthkan waktu kurang lebih 30 menit untuk bisa sampai kesana. Kondisi kamp terletak persis ditengah hutan sehingga ketersedian kebutuhan tidak terlalu terjamin, Kebetulan lokasi kamp cukup jauh dengan sumber air, sehingga jika ingin mandi atau mengambil keperluan lainnya kami menumpangi mobil bapak jo untuk bisa sampai kesungai terdekat. pada saat pagi hari kami mempersiapkan kebutuhan untuk menuju kelokasi tempat dimana banyak terdapat jenis pohon kayu berkualitas, mesin penebang dan peralatan lainnya sudah kami mobilisasi disana. Kayu-kayu tersebut akan diangkut oleh bapak jo dengan menggunakan mobil hartopnya. Ukuran dari balok dibuat berdasarkan permintaan pembeli. Ode dan luke adalah dua orang pekerja hutan yang memiliki watak humoris sehingga saya tidak jenuh berada dihutan.
Saya dan Para pekerja hutan akan bersitrahat pada saat sore hari, biasanya setelah beberapa menit melakukan rehat kami akan bersip-siap untuk mandi. Wadah untuk menaruh air sudah dibawa tepat disamping jalan sambil menunggu bapak jo pulang membawa muataanya dan setelah itu kami akan menumpang mobil hartopnya. Pada saat itu ode dan luke tidak henti-hentinya membuat lawakan yang menjadikan perut terasa sakit, cerita lucu mereka masih berlanjut diatas mobil. Sepanjang perjalanan menuju sungai kami tidak berhenti tertawa terbahak-bahak akibat ulah kedua orang ini, ode dan luke sangat bersemangat menceritakan hal-hal konyol. Bunyi sahutan burung hantu disepanjang hutan menandakan sebentar lagi malam akan segera tiba dan mungkin mereka agak terganngu oleh suara kami. Suasana disini sangat tenang, riuh yang ada tidak menjadikan tempat ini menjadi bising malah membuat suasana semakin nyaman. Sesampai disana kami membersikan badan dan mengambil air untuk keperluan memasak.
Ada sedikit kesedihan yang terbersit dalam hati ketika melihat keceriaan mereka, saya sangat prihatin dengan kondisi para pekerja hutan ini apabila suatau saat nanti mereka tidak bisa bekerja lagi disini. Sementara hutan adalah tumpuan hidup mereka dan keberadaan para pekerja ini selalu terganggu oleh kedatangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. setiap harinya selalu hadir mata-mata yang sering melaporkan rutinitas menyenso (menebang pohon dengan menggunakan mesin) mereka pada petugas kehutanan sehingga menyebabkan pekerjaan terbengkalai lantaran takut untuk dipenjara. Wajah ceria ode dan luke adalah semangat untuk menafkahi anggota keluarganya yang tidak pernah lelah untuk membahagiakan mereka. Bayangkan suatu saat nanti ketika ode dan kawan-kawan dilarang untk masuk hutan oleh pemerintah berwewenang sementara pekerjaan menyenso adalah satu-satunya pengharapan hidup yang bisa mereka kerjakan,! tentunya sangat diyangkan jika hal itu terjadi.
Keceriaan yang ditawarkan itu akan diredupkan oleh kesedihan dan kekhawatiran mereka akibat ancaman tersebut akan mebawa kesengsaraan. berprofesi sebagai pekerja hutan sangatlah memiliki risiko yang tinggi, sudah banyak korban jiwa akibat rutinitas ini. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus bekerja demi memenuhi tuntutan hidup yang begitu kompleks. Panik, ya itu sudah barang pasti belum lagi dengan gangguan para petugas kehutanan. Pokoknya mereka bekerja dengan penuh ketegangan. Namun sepertinya kedua masalah tersebut tidak menjadi penghalang bagi bapak irigre dan kawan-kawan, mereka malah menikmati suasana tersebut.
Bagi mereka, masalah hidup tidak akan terselesaikan apabila terus-terusan memimkirkan ancaman-ancaman yang nantinya akan mereka alami. Hal demikian pernah diungkapkan oleh mereka “ mau diapa kalau sudah ditangkap yang penting kita kerjami dullu karena kita sudah ambil panjar sama boss lagian mau kerja apa lagi kalau tidak menyenso” pengakuan polos dari pekerja hutan ini diakibatkan oleh tidak adanya pekerjaan lain yang menjanjikan selain menyenso, mereka pasrah oleh keadaan. Hal terpenting pastinya bisa memberikan yang terbaik kepada keluarga selebihnya mereka serahkan pada kehendak Tuhan yang maha kuasa. Baru-baru ini bapak jo diberi penekanan oleh pihak pemerintah desa akibat area kerja sudah memasuki kawasan wilayah mereka, salah seorang dari pekerja hutan juga diberi surat pernyataan agar tidak merambah hutan lagi. Kebetulan lokasi tempat mereka bekerja berdekatan dengan areal desa tetangga, sehingga kepala desa itu mengira bahwa bapak irigre dan kawan-kawan telah memasuki kawasan hutan desa tersebut. Melihat kejadian ini saya kemudian bertanya kepada bapak irigre “ apa benar lokasi itu adalah wilayah mereka pak? Bukan (sahut bapak irigre) kepala desa itu hnya kesal saja, mereka membohongi kami dengan hal seperti itu, kebetulan paman kepala desa itu adalah pensiunan pegawai kehutanan, dia tidak senang dengan kegiatan kami (tutur bapak irigre sambil menghela napas). Sabar pak !! mereka itu tidak tahumenahu dengan kondisi kehidupan bapak, seandainya dia berada diposisi bapak tentu dia akan melakukan hal yang sama (sahutku menguatkan bapak irigre). Ya sudah pak mending kita istrhat saja dullu karna masih banyak target yang belum rampung.
Belum sampai seminggu bermalam dihutan kami dikagetkan oleh salah satu warga yang datang menyampaikan kabar, bahwa besok akan ada tim yang datang memeriksa lokasi ini. Mendengar hal itu tiba-tiba mereka semua tersentak kaget dan satupersatu dari mereka mulai panik. Saya juga turut berkemas bukannya takut pada aparat sialan itu saya hanya tidak berani ditinggal seorang diri ditengah hutan. “ ayo cepat kita turun dikampung “ bapak jo mengajak kami untuk bergegas, setelah semua sudah siap bapak jo menyalakan mobilnya. Kamipun naik keatas mobil, wajah ceria ode dan luke berubah menjadi murung. Saya kembali bersedih melihat peristiwa itu, pastinya mereka tengah risau dengan target pekerjaan yang belum juga selesai. Saat itu kondisi dibak mobil begitu hening tidak ada lagi canda tawa dari kedua orang ini. Biasanya apabila ada tim yang memasuki kawasan ini maka para pekerja hutan akan berhenti sementara selama kurang lebih dua minggu lamanya. Rutinitas akan berhenti sambil menunggu aparat-aparat itu pulang, peristiwa itu sangat merugikan para pekerja. Merka sangat risau, sementara target belum juga selesai untungnya pembeli kayu mengerti dengan keadaan ini.
Pembeli tersebut tidak menyoroti mereka, hanya sedikit berpesan agar para pekerja menjaga keselamatan dari ancaman para aparat itu. Keluh kesah para pekerja hutan adalah dinamika sosial yang kerap kali kita temukan pada setiap masyarakat yang bermukim diwilah hutan, hal semacam ini seringkali menjadi pertimbangan pemda setempat untuk menerapkan kebijakan. Aturan memang perlu dijalankan namun persoalan hidup masyarakat adalah variabel uatama yang musti diprioritaskan. Orang kehutanan ataupun aparat kepolisian tentunya harus memnjadikan masalah ini sebagai bahan peninjauan apabila akan menerapkan aturan kehutanan terlebih lagi misi dari kehutanan adalah untuk mensejaterahkan masyarakat. Hutan merupakan harapan utama bagi orang disini mengehentikan rutinitas itu sama halnya dengan membunuh mereka secara perlahan. Menjalankan aturan tanpa memperhatikan sisi kemanusian adalah sebuah kejahatan yang terselubung. Saya berharap suatu saat orang-orang disini kelak akan mendapat pekerjaan yang lebih baik dan tidak ditekan lagi oleh orang-orang konservatif yang tidak memiliki hati nurani. Itulah pesan hidup yang saya temui selama berada dikampung itu, semoga bapak irigre, bob, ode, luke dan bapak jo diberi kesehatan oleh Tuhan yang maha kuasa.
SEKIAN

Komentar
Posting Komentar