Cerita ini ditulis berdasarkan kisah nyata yang kami alami
langsung dilokasi KKN tepatnya di Desa Tapuwatu Kecamatan Asera Kabupaten
Konawe Utara.
Pada saat itu, sudah memasuki minggu kedua kami
melaksankan pengapdian kepada masyarakat. Kekrabpan dengan orang-orang disini
sudah terjalin sejak kami mulai meprkenalkan diri dihadapan mereka tepatnya
pengenalan program kerja. Seperti biasanya, ketika berada dikampung orang lain
tentunya kita sangat berhati-hati baik dalam ucapan maupun dalam perilaku. Ada
beberapa hal yang menjadi perhatian utama kenapa kita harus menjaga kelakuan
ketika berada dikampung orang lain. pertama kita belum mengetahui kondisi
masyarakatnya, kedua masyarakat lokal cenderung tidak mnyukai orang-orang dari
luar mereka terlebih lagi melakukan hal yang tidak senonoh, terakhir kita butuh
pendekatan intensif agar kiranya mereka dapat terbuka dengan kita.
Menurut cerita, sebelum kami menginjakan kaki
disini sudah banyak terdengar bisikan bahwasanya lokasi yang kami tempati ini
sangat kental dengan hal-hal yang berbau magis (sihir). Sangat manusiawi ketika
kami sedikit percaya dengan asumsi itu, namun untuk lebih memastikan
kebenarannya kami mempelajari kondisi orang-orang disini. Kebetulan pada saat
itu tengah berlangsung dengan perayaan kemerdekaan Indonesia yang ke 73 tahun
sehingga banyak kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang disini, salah satu
bidang yang paling bergengsi adalah Olahraga khususnya sepak bola.
Waktu itu kampung yang kami tempati unggul
dibidang tersebut, pada suatu pagi, selesai melaksanakan sholat subuh kami
mendapati dua orang paruh baya yang tengah asyik bercakap perihal bola kaki
yang nantinya akan digelar pada saat sore hari, saya tidak mendengar secara
keseluruhan apa yang dibahas oleh dua orang tersebut, namun ada beberapa
kalimat yang sempat saya ingat “ heee jangan macam-macam dengan orang disini,
dulu waktu baku lawan dengan orang wawonii patah-patah hae pemainnya, tinggal kita
pegang lidi baru kita kasih pata selesai,, tidak berkutik mereka..’’ ucapan
tersebut memang terdengar lucu namun kalimat itu semakin membenarkan ketakutan
kami tentang cerita sebelum menginjikkan kaki disini terlebih lagi mereka
mengalakan kampung yang sangat terkenal dengan sihirnya.
Rasa was-was semakin nampak, pada saat magrib
kami tidak berani untuk keluar rumah, ya tentunya kami sangat takut. Dua hari
setelahnya salah satu anggota keluarga dikampung tersebut telah kehilangan
kepala keluarganya untuk selama-lamanya. Kami diundang untuk menghadiri
kedukaan tersebut, saat itu hanya kami bertiga yang dapat mengikuti undangan
itu teman-teman wanita tidak bisa berpartisipasi entah apa yang menjadi alasan
mereka. Namun hal itu tidak menjadi persoalan, saya memngerti mungkin ada
beberapa alasan yang tidak mesti dijelaskan kepada kami. Saat kegiatan
berlangsung kami dipersilahkan duduk lalu disguhkan teh hangat untuk diminum,
sementara jenazah masih dalam proses dimandikan.
Sebagian besar masyarakat sudah berkumpul
ditenda depan rumah untuk mengantarkan almarhum ketempat peristirahatan
terakhirnya. Susana itu semakin menambah ketakutan kami, dipertngahan peristiwa
tersebut kami berpamitan kepada pak desa bahwa saya dan temanku tidak bisa
mengikuti sampai akhir sehingga untuk sedikit mengilangkan pertanyaan salah
seorang temanku bersedia mengikuti sampai selesai, saya meninggalkan kordes
(koordinator desa) disana. Tanpa panjang lebar kamipun langsung bergegas untuk
pulang keposko. Tepat jam 04.10 sore kamipun beristrahat, banyak aktivitas yang
kami lakukan hari ini dan masih banyak yang belum rampung. Beberapa menit
kemudian pak kordes datang, tok tok tok (mengetuk pintu) assalamuallikum,..
waalaikumsalam jawabku. Eh,, bagaimana? Lama sekali baru ko pulang! Anu.. masalahnya tadi ada keluarga almarhum
yang ditunggu.. owh ayo masuk. Dia
langsung bergegas menuju bilik tempat kami tidur dan mengganti pakainnya untuk
mandi. Sedangkan teman’’ perempuan, mereka tengah menyiapkan makan malam.
Seperti biasa, setiap malam kami berkumpul
diruang tengah sembari mempersiapkan program kerja yang belum juga rampung,
dimana sebentar lagi waktu kami disini akan habis, tersisa dua minggu lagi. Tiba’’ kordes yang kami tinggalkan seorang
diri tadi tengah mengalami perilaku yang tidak biasa, pada saat itu dia
terbangun dari tidurnya seakan seperti orang mengigau. Dia bertingkah aneh
seperti sedang kerasukan, dan memang dia kerasukan. Sikordes itu
melompat-lompat kearah pintu untungnya salah seorang temanku melihat dan
melerainya, .. madan, madan ko kenapa,? Plak plak (bunyi tamparan) dia tidak
juga sadarkan diri, teman-teman (dia berteriak) kamipun tersontak kaget
berlarian. Kenapa san? Ini madan, dia kenapa ini (kepanikan) saya langsung
mengambil segelas air lalu membasuh kemukanya. Madan.. madan.. (panggilku
dengan lembut) kenapa coba kocerita! Saya seperti kerasukan mungkin gara-gara
saya dari kedukaan tadi. Oww mungkin kamu lupa dilemparkan abu, salah seorang
temanku memotong pertanyaanku, kalau dikampungkun orang yang dari pemakaman
harus dilemparkan abu karena ada jin yang ikut.
Suasana semakin hening raut wajah teman-temanku
berubah menjadi pucat masam, kami tidak memberitahu peristiwa ini kepada tuan
rumah takutnya mereka tersinggung dan perihal ini tersebar diluar. Malam itu
tidak ada yang bersuara, seakan kami mengiyakan bahwa ketakutan itu telah
membungkam mulut bahkan untuk berbiskpun kami tidak berani. Sementara temanku
yang kerasukan dia sudah lama tertidur, kami tidak mengizinkan kehendak mata yang
sudah mulai merasakan kantuk.
Kebetulan saat itu saya adalah anggota yang
agak besar diantara teman’’ku, tidak ada yang menunjukku untuk bertanggung jawab
akan peristiwa tersebut Namun dorongan alamilah yang menjadi stimulusnya. Tepat
jam setengah tiga dia terbangun lagi dan meronta-ronta, kali ini dia melakukan
perlawanan. Jangan sentuh saya, ! (tuturnya) nanti dia kena dengan kalian. Kami
tidak berani mendekatinya saya memperhatikan mulutnya, sepertinya dia sedang
membaca mantra setelah itu berbaring lagi lalu bangun dan seterusnya dan memang
dia sedang malakukan perlawanan terhadap jin yang coba merasukinya. Kami hanya
terdiam menggigil ketakutan sementara dia tengah asyk bertingkah dengan hal
yang tidak bisa dilihat wujudnya.
Hal demikian diperparah lagi dengan pernyataan salah
satu anggota posko namanya Anti. Sebelumnya dia pernah bercerita bahwa, dia
terkena sihir selama setahun dan kondisinya sama persis seperti yang terjadi
malam itu. “ kita di coba-coba sama orang disini,” bahaya kita ini”. Tuturnya.
Kami pasrah ditambah lagi kampung ini tidak memiliki akses jaringan telepon
yang memadai untuk menghubungi keluarga. Ketakutan kami sudah sangat memuncak,
pokoknya malam itu kami sangat serba salah. Sementara dua orang temanku yang
misterius itu, selalu meyakinkan bahwa
ada yang mencoba mengganggu keberadaan kami.
Keesokan harinya kami menanyai sikorban jin
tadi, “ eh kosadar kah tadi malam? Sedikit jy cuman kaya saya rasa ringan
begitu (menjawab eprtanyaanku). Saya menyambung laagi pertanyaan, ‘’ mungkin
ada yang pernah koambil disini atau ada yang kau injak? Oh iya saya ingat
sebelumnya saya pernah pergi mandi sore disungai, saya ketemu perempuan kayknya
saat itu dia juga ingin mandi, tapi dia belakangi saya. Panjang sekali
rambuntnya, saya menegurnya “ eh kenapa duduk sendirian lagi meratapi nasib ya?
Belum sampai menyelesaikan ceritanya saya langsung memotong, ‘’owww gara-gara
itumi baru ko kemasukan mungkin ditambah lagi ko ikut orang meninggal hemmm
janganmi kokeluar-keluar dulu ok! Dia mengangguk. Namun anty tidak setuju
menurutnya pemilik rumahlah yang coba meneror kami, sebab dia memiliki anak
bujuang yang kebetulan suka dengan salah seorang temanku (marwan). Kami masih
saja tegang, kejadian ini sudah berlangsung selama dua hari namun kami masih
fokus menyelesaikan program kerja yang masih banyak tercecer dihalaman posko. “
humm sudah mau malammi lagi” tutur salah seorang temanku, kamipun hanya
tertunduk.
Malam
itu kami memutuskan untuk mencari solusi atas kejadian itu, sementara anty
temanku yang misterius ini masih terus bertahan pada pernyataanya yang semakin
membuat kami takut. “saya ini sudah pengalaman dengan yang begini, jadi saya
sudah tahu persis saya dijagai sama orang yang sudah sembuhkan saya jadi saya
tahu semua, setiap malam dia datangi saya dia ceritakan semua penyebab kejadian
yang kita alami sekarang, sayaj juga bisa tahu sifat asli kalian,’’ (tuturnya).
Mungkin Saya bisa menggambarkan ketakutakan kami pada saat itu seperti air yang
dimasukan kedalam balon karet yang semakin lama semakin membesar dan tinggal
menancapkan jarum kecil maka akan meledak. Isak tangis temanku lisa dan dyah
tidak terbendung lagi. Dyah menelepon ibunya dan menceritakan semua kejadian
yang kami alami disini.
Setelah itu dyah mengarahkan kami untuk
melantunkan terus ayat suci alquran seusai sholat magrib dan sebelum tidur.
Diwaktu tegng itu, sikordes memanfaatkan kesempatan untuk keluar rumah
sementara kami sudah melarangnya. Kebetulan dikampung itu, sikordes sedang
jatuh cinta pada seorang gadis belia yang baru duduk dikelas tiga menengah
pertama (pedofil wkwk). ‘’Hemm dasar bodoh biar sudah dilarang masih saja tidak
mendengar giliran kemasukan kita lagi yang kena’’. marwan semakin kesal dengan
ulahnya. Ternyata benar apa yang ditakutkan oleh marwan, tepat jam 10 malam dia
kembali meronta’’ tentunya saat itu kami sangat panik, tanpa panjang lebar saya
mengambil handphone sikordes dan menghubungi orang tuanya dikampung. Kebetulan
handphone akan terhubung dengan jaringan apabila diletakkan ditempat yang agak
tinggi, kondisi rumah yang kami tempati memilik lantai diatasnya jadi saya
tinggal naik keatas tanpa harus keluar untuk mencari jaringan. Alhamduliah dia
angkat (tuturku) ‘’ halooo,, assalamualikum bu, iya waalaikum salam dengan
siapa ini? Ini saya teman poskonya madan bu! Owh ada apa nak ! ini bu,, ehh
madan kayak tidak normalmi sembarangmi dia bikin kayak orang kemasukan, astgaaa
kasyan anakku,, bapaaa (memanggil suaminya) la madan pa, kenapa (sahut ayah
madan) ini om dia sering kemasukan madan sudah dua harimi, hemm astagaa coba ko
ambilkan air minum nak lalu taruh speaker hp di atasnya, oh iya, saya bergegas
menuruti perintah beliau. Sudahmi nak? Iya sudah om, beberapa menit kemudian
keadaan kembali hening yang terdengar hanya bunyi tiupan yang berasal dari
handphone yang kuletakan diatas gelas. Sudah selesai nak, “ko ambil baru suruh
madan dia usap tiga kali diwajahnya,” oh iya om. “Madan ini ambil baru usapkan
dimukamu”. Tanpa basa-basi sikordes mengambinya lalu melakukan seperti apa yang
saya sarankan. Setidaknya hal itu bisa sedikit meringankan ketakutan kami,
waktu sudah sangat larut namun kami tetap tidak bisa tidur masih terbayang
dengan ketakutan yang tidak jelas penyebanya. Kejadian menyeramkan ini sudah
berangsung selama empat hari kami khawatir program kerja tidak bisa diselesaikan
dengan tepat waktu.
Akhirnya saya memutuskan untuk menceritakan
masalah ini kepada pak ustadz. Saya sangat percaya dengan beliau, pasti dia
mampu menyelesaikan persoalan fiktif ini. Selesai melaksanakan sholat magrib,
saya dan irsan membawa sikordes kerumah ustadz, ‘’.. tok tok
assalamuaallaikum..’’ “waalaikumsalam.” jawabnya dengan nadah lembut, “eh,,
silakan masuk nak! Kamipun langusng masuk. “ibuu buatkan air hangat untuk
mereka, bagaimana prokernya? Sudah selesai? Belum pak, banyak sekali
kendalanya, “ eh kenapa ? saya kira pak desa sudah fasilitasi kalian! Anu pak,
bukan itu, ini temanku madan belakangan ini suka sekali kemasukan, jadi kami
tidak bisa fokus mau kasi selesaikan proker, ditambah lagi dengan temanku yang
katanya bisa bicara sama mahkluk halus, makin takut kita pak, iya pak sambung
irsan,, astagaaaa kenapa baru cerita? Hem kita sungkan om jangan sampai orang
rumah tersinggung, “ hemm madan apa kobikin kenapa sampe bisa kemasukan?
Sikordes menecritakan seperti apa yng dia katakan sebelumnya,’’ anu pak saya
pernah ketemu cewe disamping sungai panjang rambutnya, dan saya ikut orang
kepemakaman’’ hemm itumi juga kau, (sahut pak ustadz) kalau sudah soreh
janganmi keluar-keluar apalagi kalian memang orang baru. Ibuu coba ambilkan
saya gelas, pak ustadz melafalkan ayat suci alquran diatas gelas tersebut lalu
menyuruh madan untuk berbaring kemudian beliau meneteskan air dimatanya
seketika sikordes meronta berteriak panas, panas, lalu beberapa menit kemudian
dia kembali sadarkan diri, ‘’ insyaallah tidakmi itu, janganmi kopulang kau
madan disinimi saja untuk malam ini’’. Tutur pak ustadz melerainya.
Sementara kami berdua memutuskan untuk pulang
diposko, kami khawatir dengan teman-teman disana mereka pasti akan sangat
ketakutan apabila kami tinggal. Kebbetulan malam itu sedang mati lampu,
‘’bagaimana? (tanya marwan) amanmi dia sudah ditangani sama pak ustadz, ‘’ alhamdulilah,,
jawabnya. Suasana kembali tenang, raut wajah yang cerah kembali terlihat. Keesokan harinya kami kembali beraktivitas
seperti semula. Kebetulan saati itu saya hendak ke Kota untuk membeli peralatan
yang sudah hampir habis. Saya beretmu dengan sesama mahasiswa KKN yang
kebetulan membeli peralatan di toko yang sama. “ Ehh anak KKN juga ya? Iya
(jawabnya) dari jurusan mana? Saya metematika kamu? Saya dari jurusan
antropologi, ‘’berarti kita kenal dengan madan! Oh iyaa dia itu sahabat saya
satu kelasku lagi’’ o`whh ada apa memang? Pasti korasa aneh! Iya belakangan ini
dia suka sekali kemasukan untung ada ustadz yang bantu atasi, belum sempat
meneruskan cerita dia tertawa terbahak-bahak wkwkwkwkwk ahahaha astagaa kalian
dibodo’’hi sama dia! Kwkw kembali lagi tertawa, maksudnya? Dia memang seperti
itu gila-gila, suka cari perhatian apalagi ada cewek cantik hemm memang dia itu
aneh sekali ahahah”. Saya tidak lagi melanjutkan percakapan memang ada
benarnya, madan sempat menyukai anty sicewek misterius itu, entah sudah jadian
atau belum yang jelasnya sikordes sempat menaruh hati. ‘’eh niko saya ijin
balik duluan” oh iya hati-hati lain kali jangan percaya sama itu anak memang
begitu sifatnya gila-gila wkwkkw , saya hanya tersenyum dan langsung menarik
gas motor. Selang beberapa menit kemudian saya sudah berada diposko, saya tidak
langsung menceritkan informasi tadi kepada teman’’ yang lainnya takutnya mereka
menyerang sikordes, pokoknya saya sangat menjaga betul hal ini agar tidak
sampai ketelinga mereka.
Kondisi sikordes sudah agak membaik walaupun
kami beleum sepenuhnya percaya kalu dia sudah benar-benar pulih. Terlebih lagi
setelah saya mendengar cerita dari niko. Pada saat malam hari kami diundang
oleh warga setempat untuk menghadiri acara syukuran, selesai acar berlangsung
kami bergeas pulang keposko. Seperti biasanya mahasiswa KKN selalu melakukan
peninjauan tentang kinerja selama berada dilokasi plus saling curhat tentang
apa yang tidak disenangi dan disenangi. Saat itu madan sudah bisa dipastikan
sembuh dari kegilaanya, sikordes sudah bersikap seperti biasanya, namun anty
masih saja melotot sepertinya dia masih belum puas untuk menakuti kami dan
ternyata pada saat itu lisa,dyah, Irsan dan marwan memiliki firasat yang sama.
“eh itu anty kaykny masih mau kasi takut-takut kita tutur dyah mengawali
diskusi, “ iya betul” sambung lisa, hemm
fardin coba cari kita solusi tidak mungkin kita mau begini terus saya sudah
tidak enakan sama yang punya rumah’’ tutur
irsan sambil menghela napas. “ ok ok, saya kembali menghangatkan keadaan,
menurutku yang membuat dia semakin semena-mena karena selalu saya turuti
perkataanya, jadi mulai besok saya mau coba untuk bantah ok!’’ setuju sambung
dyah. Ya sudah kita istrahatmi karna besok banyak yang akan kita kerjakan
proker terakhir kita, jadi harus maksimal.’’ Keesokan harinya saya mencoba
membuktikan rencana yang kami diskusikan semalam. Anty melarang saya untuk
mengambil air disungai namun saya tidak menghiraukannya, saya hanya asyk
berjalan, dya mengejarku “fardin banyak hantu disitu semalam saya habis
mimpikan,” saya makin tidak menghiraukannya. Anty menghampiriku dengan mata
melotot, “ehh ko mau jadi kayak madan ka? Kamu ini saya kasih tahu kotidak
percaya, kotunggumi sebentar malam penunggunya akan datangi kamu”.
Saya terdiam sejenak sepertinya perempuan ini
ingin sekali kami berada pada kendali abstraknya. “ antyy inikan masih siang
lagian masih banyak juga orang berlalulalang” tuturku dengan agak sedikit
menekan. “ sudahmi kasih takut-takut kita dengan begituan gara-gara sering
kobilang begitu kita makin takut, makin tertutub sama warga mending kita
selesaikan cepat proker supaya dikasi nilai bagus sama pak desa”.
Simisterius itu tidak berkata apa-apa dia pergi
dengan raut wajah kesal. Sepertinya strategi tersebut membuahkan hasil, anty
tidak lagi menakuti kami, ia malah sibuk menelepon dengan doinya yang katanya
bekerja sebagai staf pengadilan negri di Kota Kendari, sepertinya keadaan sudah
kembali normal kami sangat senang, sudah terbebas dari dua orang aneh itu sikordes
dan simisterius yang bisa menggunakan ilmu telepati. “ ehh ternyata anty itu
memang begitu orangya, lisa kembali mengangkat topik , “ tadi saya ketemu
dengan temanya dipasar dia bilang kalau anty itu rada-rada aneh, temannya
bilang jangan mau dibodohi sama dia, akan tambah parah kalau kita ikuti terus
maunya,” hemm untung saya punya firasat seperti itu tuturku memotong cerita
lisa, “coba lihat perbedaanya setelah kita cuek dengan perkataannya”, “betul
juga di” sambung dyah. Hemm ternyata selama ini kita diakali sama dua orang
itu. Singkat cerita, sebenarnya tidak ada hantu dari luar yang meneror kami,
hantu itu bersemayam pada fikiran dua orang temanku sikordes dan simisterius.
Kalau sikordes ingin diperhatikan oleh sebab itu berpura-pura kerasukan sedangkan
sianty dia mencoba mengedalikan keadaan dengan cara menakuti kami. Sungguh
teramat aneh, apa untungnya ,kami sudah rugi waktu, pekerjaan hampir tidak
terselesaikan hanya demi meladeni fantasi mistis dua orang temanku yang gila
tadi. Saya sangat berdosa pada kampung ini, kami sudah berprasangka buruk
terlebih lagi pada tuan rumah semua disebabkan oleh dua orang temanku. Tidak ada hantu dikampung ini justru dua
orang temanku itu hantunya. Saya sangat kesal dengan kejadian itu, tapi semua
memiliki hikmah berkat peristiwa itu kami belajar menyelasikan masalah.
SEKIAN
Komentar
Posting Komentar